marah


aku siapa? anjing. musik berputar keras dalam telinga.  huruf-huruf di keyboard laptop dipukul tanpa perhitungan sehingga muncul kata-kata tak bersuara, seperti desis seorang malaikat pada seorang nabi yang nanti akan kedinginan dan minta dipeluk kain wol. setan mulai kesetanan.  dalam kepala ada banyak hal: anjing menggonggong, lelaki brengsek memakan kemaluan sendiri, pakaian belum dicuci, tubuh memakai baju bolong di bagian belakang, anjing, anjing, perempuan-perempuan di pinggir pantai, nasi busuk sudah dimakan teman sendiri, orang-orang mengepalkan tangan meminta perubahan, sebelah mata sakit, ingin mati muda setelah sukses dan kaya raya, bermimpi lahir dari rahim presiden yang kukorupsi kemaluannya setiap malam jum’at, teman-teman sibuk mengurus skripsi sampai lupa kencing pada alat kelaminnya masing-masing, merasa kasihan pada hidup yang terlalu lama, dan dalam kepalaku suara adzan di atas pengeras suara sedangkan aku memakai headseat dengan suara adzan juga dari dalam hati sanubari. aku akan sholat pada waktunya, jadi jangan adzan di waktu yang salah.
“siapa namamu?” tanya orang yang lupa memakai sandal di atas aspal panas.
namaku adalah tidak penting bagi siang ini. makanya hanya kulemparkan senyum padanya sebagai jawaban atas pertanyaannya yang masuk akal. aku hanya ingin dia sadar siapa lawan bicaranya. agar lebih serius membuat pertanyaan. bukan lagi bertanya nama yang sudah beberapa tahun aku miliki dan aku juga sudah mulai bosan dengan namaku sendiri. nama yang hanya ditukar dengan kambing oleh ayah. sebagus apa pun kambing, tetaplah kambing. katanya tuhan memiliki jawaban atas segala persoalan itu. hahaha…. aku jadi ingin bertanya, apakah dia suka menjawab soal? sebentar lagi aku uas. setelah itu aku akan berpisah. haha… katanya. dia senang. aku tahu. mungkin. kuakhiri saja kalimat ini. sebelum hari yang tiada akhir itu datang, seperti yang telah dijawab tuhan dalam lembar jawaban.

Malam Mingguan


Kang Badar

Malam Minggu ini aku memilih untuk menginap di kos Badar, seorang teman yang kukenal sejak 2010 lalu di kampus.
Memang, malam Minggu seringkali dianggap malam yang paling romantis untuk berduaan dengan pacar. Lalu, apa salahnya jika aku bermalam Minggu untuk membangun kembali sebuah ikatan yang seringkali dinomorduakan: persahabatan? “Kasih sayang dari pacar memang indah, tapi tidak cukup. Perlu juga cinta kasih dariku sebagai seorang yang tampan,” kata Elex Suwex, seniman alam dari Magelang.
Awalnya hanya ingin nebeng motor si Badar, karena kosku satu arah dengan kosnya. Tapi di tengah jalan aku berubah pikiran: aku ingin menginap saja di kos Badar. Sudah lama tidak berkumpul dengan teman satu angkatan. Kita sudah jarang sekelas bareng, sudah  jarang berkumpul seperti dulu lagi. Semakin lama kita mengenal ternyata tidak membuat semakin akrab atau semakin dekat. Malah dengan kesibukan masing-masing kita semakin membuat jarak.
Kos Badar berlokasi di Gowok Blok E 01—nomor kosnya tidak jelas, karena Badar juga tidak tahu.
Sesampai di kosnya, ia langsung memarkirkan motornya. Lalu diajaklah aku naik ke lantai dua, melwati anak tangga yang kalau tidak salah berjumlah delapan belas. Di atas hanya ada tiga kamar. Kamar Badar berada di posisi paling tengah, pintu masuknya tepat berada di ujung tangga.
Isi kosnya cukup bersih dan rapi. Dindingnya berwana biru langit, sewarna dengan karpet yang digelarnya di lantai. Entah apakah dia seorang Milanisti atau tidak, tapi yang jelas dari kasur, bantal dan bantal gulingnya bergambar bendera AC Milan. Di dekat jendela yang ditutup dengan kertas bermotif kotak-kotak, ada TV Sanyo 14 inchi duduk di atas meja berwarna coklat. Di samping kiri TV itu ada bekas botol air mineral yang di dalamnya terdapat banyak uang receh. Di sebelahnya lagi racecooker yang sepertinya sudah jarang dipakai. Di sebelah kanan TV Sanyo itu ada lemari dengan rak buku kosong di atasnya. Buku-bukunya berjejer rapi di rak  buku di bagian pojok selatan kamarnya, bersebelahan dengan speaker mini dan kipas angin berwarna biru.
Begitulah kira-kira gambaran tidak lengkap tentang kosnya Badar. Dan malam ini aku akan menginap di sana.

***

Bersama Badar, awalnya bercerita tentang senang dan tidaknya punya pacar. Dilanjut tentang kisah petualangan anak Gorong-Gorong. Lalu kemudian, aku dan Badar bercerita tentang masa-masa indah awal masuk kuliah: Saat pertamakali mengenal Ietha Sanie di waktu OPAK (Orientasi Pengenalan Akademik Kampus); Perjumpaan dengan Mang Yatno yang ternyata satu jurusan dan satu kompleks indekos dengan Badar; Salut pada Agus Eko Cahyono yang ngontel jauh-jauh dari Krapyak; Tentang Dewi si putri muslimah; Irawan Jansel yang dikira keturunan China; Wahdini yang ternyata bukan bule; Keanehan saat melihat aku yang ke mana-mana selalu bersama Supriyadi; Imam Gapoel yang ternyata takut pada perempuan, dan banyak cerita lainnya.
“Sekarang teman-teman sudah pada sibuk dengan dunianya masing-masing, Yi,” tutur Badar. Aku membenarkan. Karena terkadang aku juga sok merasa sibuk, padahal sebenarnya punya banyak waktu untuk berkumpul. “Pokoknya belum empat tahun kita kuliah sudah amat banyak yang berubah.”
Ya, begitulah.

Bila Aku Kangen


Kekasihku tidak suka pada kata “rindu”. Ia lebih setuju untuk mengatakan “kangen” bila ada keinginan untuk bertemu, bersama, atau bertegur sapa dalam canda tawa ketika sudah lama tidak berjumpa. Aku tidak tahu alasannya mengapa harus begitu, seperti ketidaktahuanku pada apa yang harus aku lakukan ketika sedang kangen padanya. Ia hanya memberi jawaban yang menurutku tidak masuk akal, “Kangen itu lebih suci daripada rindu,” ucapnya. Selama kalimat yang mengatakan: “Tak ada yang tidak logis dalam masalah cinta”, tidak ada yang menyalahkan, bisa dibenarkan apa yang dikatakan kekasihku itu.
Aku tahu, padanya aku adalah dekat. Bahkan, seperti pecah yang telah menjadi satu, yang tak lagi ditemukan retak pada kesatuan kita. Namun aku harus menempuh jarak jika mau bertemu dengannya, harus menghabiskan beberapa waktu untuk bersama dengan seorang dia yang telah sudi menjadi kekasihku. Ruang dan waktu adalah kepastian yang harus ada pada kita. Sebab apalah arti sebuah cinta jika tidak berada dalam keindahan ruang dan waktu. Tidak akan ada kisah yang menarik. Tidak akan muncul cerita heroik di antara kita. Tidak akan ada kesatria dan seorang putri seperti aku dan dirimu kekasih.
Pernah aku katakan, aku akan datang dengan diriku sendiri bila sedang dalam kangen padanya. Aku tidak ingin diantarkan oleh mobil, mengendarai motor, atau pun mesin lainnya. Kendaraan-kendaraan itu akan kubiarkan di rumah, sebagaimana seharusnya benda mati tak berperasaan. Biarkan barang-barang itu tetap mematung tanpa ikut campur dalam urusan perasaanku. Aku akan berjalan sendiri menemuinya yang anggun duduk menungguku di depan tempat tinggalnya. Karena benar-benar hanya aku sendirilah yang mencintainya, bukan karena mesin-mesin beroda itu.
Semoga cinta kita menjadi kisah yang indah di akhir perjalanan nanti, yang akan kita kenang dengan tawa dan senyum yang selalu segar. Atau hanya akan menjadi kenangan. Dan itulah yang paling aku takutkan.

***
Tulisan di atas adalah bakal cerpen yang tidak jadi-jadi. Sulit meneruskan atau mengeditnya hingga menjadi sebuah cerita yang menarik. Akhirnya aku punya kesimpulan bahwa ternyata cinta itu memang rumit, apalagi menuliskannya dalam bentuk karya cerpen. Menjadi sesuatu yang mustahil untuk selesai. Sebab dalam kehidupan nyata saja, kisah cinta tidak selalu berujung pada segalah yang maha indah. Ada senang dan juga marah. Mungkin itulah yang menjadi menarik dan indah.
Lalu, bila aku kangen apakah dia akan selalu marah-marah seperti saat kutelepon tadi sore? Kapan akan menjadi sesuatu yang indah jika terus seperti itu. Aku tak tahu, apakah hal seperti ini juga tidak akan selesai, senasib dengan cerpen yang aku buat? Masih belum ada jawaban.
Kemudian waktu seperti tertuang percuma.