Nih, Program KKNku



Tadi pagi aku jalan-jalan bersama Evi, Abeng, Mili dan Fina. Semuanya adalah sepupu-sepupuku yang mungkin masih belum tahu ‘tikungan ke pagar orang lain’, karena mereka masih kecil-kecil.  Mungkin hanya Evi yang mendingan udah agak gede, dia sudah kelas Sembilan Madrasah Tsanawiyah (MTs), sedangkan Abeng, Mili dan Vina masih duduk di bangku Madrasah Ibtida’iyah (MI). Kalau boleh sombong pada teman-temanku yang sedang KKN di daerah-daerah di Jogja, “Inilah Program KKN-ku di Madura yang hanya jalan-jalan bersama anak-anak kecil setiap hari.” Itu pun kalau aku tidak mengantuk sehabis sholat Subuh, biasanya tidak ada program kalau aku tertidur. Paling-paling masyarakat kecil-kecilan itu yang jalan-jalan sendirian tanpa didampingi mahasiswa utusan kampus dari Jogja seperti saya.
Saat jalan-jalan tadi pagi, aku membawa Khumairo, sepeda merahku itu, yang lain pada jalan kaki. Ya, memang harus tidak sama antara mahasiswa dengan masyarakat. Biar ada perbedaan. Mungkin kalau teman-teman yang KKN di Jogja mengnakan almamater kampus untuk dipamerin pada masyarakat yang hanya memakai baju seadanya. Kalau aku di sini dengan sepeda, Khumairo, bukan almamater seperti mereka-mereka. “Aku kan KKN khusus.”
Namun doaku, semoga KKN kalian semua berjalan dengan baik. Kalian semua juga jangan sampai ada rasa iri maupun dengki kepadaku karena aku KKN di tempat yang spesial, kampung halaman, rumah sendiri dan kamar sendiri pula. 

Kamis, 1 Agustus 2013

Khumairo



Sejak pertamakali sampai di rumah—dua puluh hari yang lalu, awal bulan puasa—aku jatuh cinta lagi pada sepeda Polygon hitam yang kubeli saat masih duduk di bangku kelas enam Madrasah Ibtidaiyah (MI) oleh ayakhku di pasar Bangkal, Sumenep. Sepeda yang banyak menyimpan kenangan, salah satunya pernah membuat pantat Munir Aswa luka parah karena terkena terkaman roda belakang yang berputar cepat waktu itu, saat jalan-jalan ke Sumber Kolla.
Warnanya sudah banyak yang mengelupas, terutama di bagian belakang; stangnya mulai berkarat; kedua bannya kempes, dan; banyak debu menutupi sepeda Polygon pertamaku itu. Aku jadi merasa bersalah, bertahun-tahun mencampakannya di dekat dapur, bersama tumpukan wajan dan panci bekas.
Walhasil, dengan merasa benar-benar ikhlas bersalah. Aku ingin memperbaikinya, mengendarainya lagi dan  mengantarkan aku jalan-jalan seperti masa-masa saat sekolah dulu. Untungnya kakekku adalah seorang yang  (maha)tahu terhadap isi hatiku, beliau membantuku dengan membelikan dua ban dalam dan satu ban luar. Dengan senang hati aku langsung mengganti roda Polygonku yang sudah membusuk itu di rumah  Jailan, tukang sepeda. Aku bersama Romsi, salah satu anggota gankku dulu, mengganti ban sepedaku dengan yang baru.
Beberapa menit kemudian, setelah melewati perjuangan panjang, kedua ban sepedaku berganti yang baru. Seketika itu, aku langsung mengendarainya. Karena sepertinya aku sudah tidak kuat menahan nafsu untuk berada di atasnya, mengantarkanku  pulang ke rumah.
Dalam perjalanan kerumah, kurasakan roda depannya goyah, embar. Aku jadi tidak satu hati mengendarainya. Ada perasaan mengganjal. Tidak enak mengendarainya.  
Malam harinya kutanya pada Romsi, yang kini sudah resmi kuangkat menjadi dokter spesialis spedaku. Kata dia,  harus beli peloran—maaf aku tidak tahu bahasa indonesianya. Pagi harinya, setelah bangun tidur,  aku langsung berangkat ke toko sepeda Ji Mattasin, di Slopeng, membeli peloran bersama Romsi untuk roda depan sepedaku itu.
Setelah kudapat makhluk yang bernama peloran itu, aku langsung memperbaiki sepeda lagi di rumah Jailan. Tentu bersama Romsi, tak mungkin aku sendiri.
Akhirnya selesai juga.  Kukendarai lagi, jalan-jalan keliling kampung, sekalian untuk mengetahuo lebih lanjut kondisi sepedaku. Ternyata masih ada sedikit kekurangan, tinggal pedalnya yang kini kocak, Embar.  Kata mang romsi juga harus beli peloran. Saat itu pula aku langsung membeli peloran di Toko  Ji Mattasin. Setelah membeli itu, aku langsung memberikannya pada Romsi untuk dipasangkan.
Beberapa menit kemudian sepdaku langsung beres. Saat kukendarai pulang ke rumah, ternyata pedalnya sudah bagus. Aku nyaman  mengendarainya.
Esoknya harinya aku membeli cat Pylox warna merah. Tidak sedap rasanya melihat sepeda dengan warna yang sudah banyak yang luntur. Itulah alasanku untuk mencatnya lagi. Timku dalam pengecatan sepeda Polygonku itu terdiri dari beberapa orang. mereka antara lain adalah Didik, Munir Aswa, Munir Hadi, Abeng dan Romsi. Mereka semua bekerja sama memberikan masukan, hingga dalam waktu yang agak lama, sepedaku selesai dengan hasil yang lumayan bagus. seperti bermetamorfosis sempurnah, dari hitam kumuh menjadi merah cerah, dari jelek menjadi bagus.
Berhubung sepedaku sekarang berwarna merah, aku langsung memberikannya nama Khumaira, si kemerah-merahan. Dengan nama itu, saya berharap si Polygon lama saya itu tidak lagi cengeng, dengan meminta untuk dibelikan banyak suku cadang lagi. karena uang saya sudah menipis.
Namun, setelah beberapa hari kemudian aku bersama Khumaira, ternyata dugaanku salah. Aku harus membeli rem depan dan belakan, bel sepeda, lampu led depan dan belakang, dan sadel sepeda. Yang semua itu ternyata membutuhkan biaya besar. Semuanya kulakukan demi kembaikan Khumairo. Kasihan sekali kalau dia harus terlantar lagi.




Kamis, 1 Agustus 2013 

Sampingan



Beberapa hari ini aku sedang diberi petunjuk oleh Yang Maha Kuasa untuk membuat beberapa desain jelek. Mungkin semua makhluk di dunia ini sudah mulai bosan dengan keindahan, sehingga Tuhan Yang Maha Kuasa harus mengutusku sebagai pemuas hasrat ketidak-indahan seluruh makhluk di dunia ini.
Beberapa karya desainku:

Agama Yang Masih Belum Ada
Setelah Logonya Selesai Dibuat.

Formaksiat: Khusus Aku Sendiri

Ini Dibuat Sebagai Permintaan Dari Idin,
Ketua Bem J-AF Masa Lampau.

Dibuatnya Desain Ini Karena Pacar Saya Dirayu
Salah Seorang Dosen.

Ini Logo GGI Yang Masih Belum Sempurna,
Tapi Sudah Di-ACC Oleh Subeko.

Karena Saya Jomblo Terus, Maka Lahirlah Desain Hitam Ini.

Desain Ini Buat Foto Profil
Facebook Zaman Lampau.

Aku Disuruh Membuat Desain Ini Oleh Ngumar Faruq.
Joni Mengemis agar dibuatkan Desain
Untuk Dijadikan Foto Profil Facebook Juga.

Tanda Bagi Geng Berkacamata.

Aku Takut Ditabrak Kalau Milih Jalan Kanan,
Makanya Pilih Kiri.

Terinspirasi Dari Mongol Stand Up Comedy Metro.

Pernah Dijadikan Sampul Blog Pada Zaman Lampai.

Hemmam Sang Takmir Yang Mengaku Dirinya Tuhan.

Aku Yang Dulu Ingin Kesepian.

Seseorang.

Lagi-Lagi Tentang Filsafat.

Sebuah Info Pendaftaran Mahasiswa Baru
Gorong-Gorong Institute.

Desain Ini Juga Pernah Menjadi Sapul Blogku
sebelum Kutemukan Yang Baru.