Sholat, wkwkwkw....


Ada teman yang yang selalu menyuruh saya sholat, tapi dia juga sering mengajak saya untuk menonton film biru. Teman satunya lagi juga rajin sholat berjamaah dengan pacarnya, meskipun beliau juga sering ‘berjimaah’, tentu dengan pacarnya juga. Ada juga teman yang sholatnya khusuk dan “shilat” bibirnya juga luar biasa khusuknya. Sebenarnya apa arti sholat bagi mereka?
Kalau menurut mereka sholat hanya untuk melebur dosa, aku akan berhenti sholat. Buat apa? Tak ada mental pemberani. Seharusnya mereka berani bertanggung jawab atas semua yang telah mereka perbuat. Tidak menjadi pengecut dengan pura-pura menangis, sedih, menyesal dan hina untuk mendapat ampunan dari sang ilahi. Namun setelah itu, masih membuka ruang untuk berbuat keji lagi.
Memang manusia tidak akan pernah luput dari berbuat salah, tapi berbuat salah tidak mungkin tanpa rencana.  Semua terencana dengan baik. Oleh karena itu, jangan pernah mau berbuat kalau tidak ingin bertangung jawab.
Kamis, 05 Januari 2012

Selamat Satu Januari


Ada yang membosankan pada malam itu, malam yang disebut-sebut sebagai malam tahun baru. Jalanan sesak, ada bunyi terompet yang memekakakan telinga, letusan kembang api menyambar langit. Dan anehnya aku melihat keceriaan dan kegembiraan terlukis di wajah setiap orang.
Apa sebenarnya yang membuat mereka bahagia? Tahun baru? Sedangkan tahun baru tidak pernah berjanji memberikan apa pun pada diri kita. Lantas kenapa mereka tersenyum sepanjang jalan?
Melihat kebang api yang penuh mewarnai langit pada jam 00.00 WIB, tak ada rasa apa pun dalam batinku. Karena bagiku tak ada tahun baru, tahun terus semakin tua, tak akan pernah kembali menjadi tahun yang baru.  Lantas, kenapa aku harus gembira mengikuti mereka? Pekerjaan yang hanya memboroskan waktu.
Saat semua orang yang memadati jalan meluapkan seluruh kebahagiaannya: meniup terompet, melepas kembang api ke langit, membunyikan klakson, berteriak, berciuman, berpelukan, dan lain sebagainya, aku hanya berdoa, di satu Januari ini semoga tidak menjadi akhir dari usahaku.
Dan malam ini, belum saatnya aku diperbolehkan untuk tersenyum, karena banyak hal yang masih belum kugapai. Selamat Satu Januari!
Senin, 02 Januari 2012

Akulah Tetes Hujan


Aku melihatmu mengetuk pintu. Perlukah kubukakan pintu? Sebab garis di wajahmu tidak mengizinkanku.
Kala itu gerimis datang. Kau berlari menjauh dari serbuan butir-butir hujan yang kian deras, lalu berteduh di bawah bangunan berwarana kulit jeruk matang. Angin berhembus ke arahmu, menggerakkan ujung kerudung putihmu. Sebenarnya telah kusampaikan kerinduan yang matang bersamaan hembusan angin itu, apakah kau mendengar aromanya walau sedikit saja?
Wajahmu berpura-pura memandangi rintik hujan. Menghiraukanku. Padahal justru itu yang membuatku senang, karena aura kebencian yang keluar dari wajahmu begitu tulus berurai memancar padaku. Yang penting kau tulus membenciku, aku pun membalas akan terus tulus menyayangimu. Sebab cinta kadang butuh berbalas seperti itu.
Semoga hujan tak segera reda mengurungmu di sini. Karena aku sedang menunggu tepatnya waktu, untuk menjadi tetes hujan terakhir yang akan menyapa permukaan tanganmu. Izinkan aku, meski sudah tidak menjadi manusia untuk mendekap tenang tanganmu.
Rabu, 28 Desember 2011