Maaf Saya Ini Tidak Punya Pacar


Mungkinkah sahabat Qais memanggil dia dengan panggilan Laila? Atau sebaliknya, menyapa Laila dengan nama Qais? Atau juga Romeo pernah dipanggil Juliet oleh teman-teman dekatnya? Atau juga si Juliet dipanggil dengan nama Romeo oleh kawan-kawannya? Aku sendiri tidak tahu jawabannya. Yang pasti teman-temanku selalu mengganti namaku dengan nama si dia setiap kali memanggilku. Aneh bukan?
Beberapa sahabat dekatku di kampus memang selalu menuduhku kalau si dia itu adalah pacarku, atau paling tidak mereka menuduhku aku suka mengejar-ngejar si dia. Padahal sebenarnya tidak seperti itu. Karena aku ini memang tidak memunyai perasaan khusus untuk siapapun, termasuk pada si dia. Dan tentang sahabat-sahabatku itu, aku sendiri tidak tahu jelas kenapa mereka sebegitu pedenya menuduhku seperti itu. Mungkin saja mereka adalah golongan orang yang memunyai mukjizat sehingga bisa membaca apa yang ada di benak dan hatiku. Atau boleh jadi mereka seperti nabi Khidir yang dapat membaca masa depanku. Wallahu a’lam.
Seperti kata Iwan Fals, “aku ini termasuk orang yang vakum dalam masalah percintaan.” Dan sudah sering aku katakan, kalau sampai saat ini aku tak memunyai pacar. Riwayat cintaku banyak yang mati muda. Tetapi selalu saja teman-temanku masih suka menuduhku yang bukan-bukan.
Sudahlah. Tak perlau aku bercerita panjang lebar. Jika mereka percaya dengan apa yang aku katakan, aku bersukur. Dan jika tidak, semoga mereka segera percaya, tentunya agar aku segera menjadi orang yang cepat bersyukur.
Kamis, 06 Januari 2011

Temanku yang ‘Best’




Siapa sangka, waktu MA dulu aku bisa bersahabat dengan orang sehebat Moh. Alfaiz Sa’di, Ali Hisyam, Naufil Istikhari, A. Rusliyanto, Abdurrahman, Farhi Muqaddas, Ach. Rofiq, Masduki, Wildan, Fanani Fudhali, Mahalli, Maufiqurrahman, Umar Faruq, Febriansyah dan beberapa orang lainnya. Waktu itu aku hanya menjadi pengagum mereka, tak ada talenta lebih yang dapat membawaku berada di lingkaran orang hebat seperti mereka.
Saat sampai di Jogjakarta—waktu itu Imam Musthafa membawaku ke PP. Hasyim Asy’ari (Kutub), sehingga aku tertarik untuk tinggal di pesantren yang di dirikan almarhum Gus Zainal itu—kembali Tuhan mempertemukanku dengan orang-orang yang membuatku terbelalak kagum karena talenta yang mereka miliki. Mereka itu adalah para penulis yang namanya seringkali mewarnai media massa. Orang-orang luar biasa itu adalah: Muhammad Muhibuddin, M. Sanusi, Fathorrahman MD, Juma Darmapoetra, Romadhan MK, Rachem Siyaezha, Nick, Fathorrahman Hasbul, Moh. Fathollah, Imam Musthafa, Jufri, Nur Kholis Anwar, Iksan Basoeki, Muhlisin, Ca’ Takul, Abdullah, Sigit dan beberapa sahabatku yang luar biasa lainnya. Diantara mereka, aku tetap istiqamah menjadi orang lemah yang tidak tahu apa-apa.
 Lagi-lagi saat aku masuk di kelas Filsafat UIN Sunan Kalijaga, Tuhan kembali menakdirkanku berjumpa dengan mahasiswa yang dipenuhi dengan semangat dan pengetahuan luas. Mahasiswa yang selalu haus dengan ilmu pengetahuan. Mahasiswa yang selalu tidak puas dengan ilmu yang didapat. Mereka itu adalah Supriyadi, Mahrus, Jakfar, Syamsul, Siro, Gatot Hadi, Irawan, Eko, Ietha, Mahmudin, Fazlur, Pajang dan beberapa temanku lainnya. Dan tetap saja, dibanding dengan mereka semua, aku masih seorang yang tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya orang kecil yang selalu menatap mereka ke atas.
Dalam dekapan sunyi pengetahuan dalam diriku, ingin rasanya talenta yang seperti miliki juga mengalir dalam jiwaku. Bahkan kerapkali aku tersenyum iri jika mendengar kabar sahabat-sahabatku sudah meraih banyak prestasi. Inilah beberapa prestasi yang cukup membanggakan: kemarin karya tulis Naufil Istikhari sudah mejeng di Harian JogloSemar, 10 November 2010. A. Rusliyanto dinobatkan menjadi juara ketiga lomba depat OPAK 2010. Umar Faruq mendapat kepercayaan penuh dari rektor UNCOK. Moh. Alfa’iz juara pertama debat bahasa arab di Jakarta. Maufiqurrahman dan Mahalli dipercaya menjadi orator ulung di Malang. Melihat semua itu aku hanya bisa tersenyum bangga meski dadaku remuk oleh tanya, “mengapa aku tidak semujur mereka?”
Dalam kondisi seperti ini aku selalu teringat pesan ibu, “ibarat beras, dia tidak akan menjadi putih jika tidak pernah bergesek dengan beras lainnya.” Mendengar itu aku hanya bisa tersenyum. Berharap selalu bisa bersama dengan orang-orang luar biasa itu. mungkin dengan begitu apa yang di katakan Ibu menjadi nyata.
“Aku berjanji akan membahagiakanmu Ibu”
Rabu, 05 Januari 2011


Sahabat-Sahabatku Saat di MA Tahfidh Annuqayah (2007-2010)




Sahabat Sekaligus Guruku di PP. Hasyim Asy'ari (Kutub)
Sahabat-Sahabat Diskusiku di Kelas Aqidah dan Filsafat

Cerita Malam Tahun Baru Versi Aku


Di malam tahun baru ini, apakah Pak SBY dan Bu Ani Yudhoyono juga meluangkan waktunya untuk sekedar melihat kembang api yang pecah meriah mewarnai langit di jam 00.00 di langit Indonesia? Atau Timnas Indonesia pergi besama ke Puncak untuk menghibur dirinya yang kemarin lalu gagal mengangkat tropi? Atau juga Kyai Busro, Bupati Sumenep, juga pergi ke Taman Bunga Sumenep untuk melihat kebahagian rakyat Sumenep di tahun baru ini? kalau Ariel tentu sudah bisa ditebak, dia akan menikmati malam tahun baru di balik jeruji besi. Entah kalau Luna maya dan Cut Tari, aku sudah tidak tahu kabar baru mereka berdua.
Di malam tahun baru ini, begini ceritaku:
Malam itu, aku bersama Hemam Nasiruddin dan Supriyadi pergi ke Alun-Alun kota Jogjakarta. Jangan curiga, kami bertiga bukan makhluk homo yang suka dengan sesama jenis. Boleh saja dibilang jomblo. Tapi aku sendiri tak mau. Karena aku sendiri banyak ‘pacar’ di rak buku. Mulai dari Dunia Sophie, pacar yang cantik dan cerdas karya Justien Garder. Catatan Pinggir, pacar yang selalu membuatku terpesona buah tangan Goenawan Muhammad. Islamku Islam Anda Islam Kita, pacarku yang penuh perhatian karangan si dewa mabuk, Abdurrahman Wahid. Dan banyak pacarku lainnya.  
Jalan raya yang biasanya hanya dilewati puluhan kendaraan setiap hari, malam ini begitu sesak dengan ratusan motor dan ribuan manusia. Semuanya tampil cantik, menarik dan pokoknya wah...mungkin yang tidak tampil beda dan menggoda hanya pak polisi yang berdiri dengan wajah sibuk ditengah jalan. Kecuali si polisi itu, semuanya menuju arah yang sama, Alun-Alun kota Jogja.
 Motor-motor itu hanya bisa mendengus menderu, tak mendapat celah untuk malaju. Macet! Beruntung tiga sepeda onthel kami ditinggal di tempat kosnya Eko. Sehingga kami bisa dengan cepat menyelinap masuk menuju muara kebang api itu.
Jam tangan hitam yang melingkar di tangan kiriku sudah menunjukkan pukul 11.55. Tinggal lima menit lagi kita semua akan meninggalkan 2010 menuju 2011. Betulkah seperti ini? Aku tak tahu. Apakah waktu benar melangkah ke depan atau malah berjalan ke arah belakang, ke arah masa lalu. Atau waktu itu diam seperti yang dikatakan Andrea Hirata dalam cerpen “Kemarau”-nya? Aku tak tahu menjawab persoalan waktu ini. Tapi sebentar lagi kembang api itu akan mekar di langit.
Saat jam menunjukkan angka 00.00, langit yang semula diam mebeku tiba-tiba meriah dengan tumpahan warna kembang api. Semua wajah menatap ke atas, pada langit. Senyum mengembang di bibir orang-orang sekitarku. Ada apa? Apakah tahun telah benar-benar berganti? Aku melihat ke sekitar, sepertinya tak ada yang baru. Tak ada perubahan. Lalu mengapa mereka tersenyum?
Apakah di 2011 mereka melihat kebahagiaan besar akan menimpa mereka? Batinku kembali bertanya. Mungkin saja jawabanya “ia”. Karena kata A.S. Laksana, kolomnis favoritku, negeri ini memang dipenuhi dengan berbagai macam mukjizat. Salah satu pemilik mukjizat adalah adinda Gayus yang mendadak menjadi orang kaya. Contoh mukjizat lainnya Anda bisa mencari sendiri. Karena orang yang punya mukjizat banyak berkeliaran di sekitar Anda. Begitulah kata pendiri menulis kreatif Jakarta School.
Semalam suntuk kami bertiga menginap di tempat itu. Awalnya di bawah beringin besar yang gagah berdiri di tengah Alun-Alun sambil melihat beberapa pasang kekasih yang asik bercumbu di tengah malam. Seru melihat gaya mereka pacaran. Mungkin mereka menyebutnya gaya pacaran romantis malam tahun baru. Tak puas dengan mengecup di kening, bibir yang seindah delima pun menjadi tempat eksekusi akhir. Betapa indahnya. Aku sendiri tak bisa membayangkan.
 Karena tak kuat dengan suhu dingin yang sedikit banyak sudah membasahi pakaian kami, akhirnya kami bertiga pindah tempat. Saat aku meniggalkan tempat itu, beberapa pasang kekasih itu tetap saja bercumbu meski malam benar-benar telah larut. Sebelum meninggalkan mereka hatiku kembali berkata, “Inilah arsitek cinta yang ingin mengalahkan kisah cinta Romeo dan Juliet atau Qais dan Laila.”
Rencananya kami bertiga akan menginap di tempat kosnya Eko. Tapi keinginan itu mendadak kami urungkan, karena Eko masih belum pulang dari pantai Paris. Dia memang menikmati malam tahun baru di pantai tempat kanjeng Kidul. Akhirnya mau tidak mau kami bertiga memutuskan untuk tidur di atas pintu gerbang masuk Alun-Alun. Kembali kami bertiga tidur di bawah bulan dan satu dua bintang di atas sana. Di tempat itu juga banyak adegan ciuman seperti tadi.
Selepas subuh kami bertiga terbangun. 01 Januari 2011, tanggal di Hp-ku berkata seperti itu. Di sekitarku, kulihat beberapa orang laki-perempuan tidur bersama dengan  berselimut jaket tebal. Ada pula yang hanya berpelukan. Inikah hari pertama tahun baru? Batinku tak menjawab pertanyaan itu. Orang-orang di sekitarku juga bisu, mereka tetap tidur pulas di pagi ini.
Mengingat kejadian semalam. Mulai dari penampilan orang-orang yang luar biasa indahnya. Puluhan mobil dan ratusan motor keren yang mereka miliki. Handphone canggih keluaran terbaru. Dan meriahnya kembang api. Aku jadi teringat kata-kata Viktor Frankl, “Sekarang ini, semakin banyak orang memiliki sarana dan prasarana untuk hidup, tapi hidupnya tanpa makna.”
 Jam 06.00 aku, Supriyadi dan Hemam mengayuh sepeda pulang dengan membawa cerita malam tahun baru di memori masing-masing. Dan inilah cerita tahun baru versi aku.
Sabtu, 01 Januari 2011